|
|
|
![]() |
|
|
|
|
Togap Siagian
Pusing sehabis mengikuti ujian keuangan, kami berenam pergi makan malam. Kelompok kami benar benar internasional. Selain saya, ada Kevin Kok si Canadian Chinese, Michelle yang American Korean, Najib si Teroris Pakistan, Xiu Lin dari Cina, Ashutov dari India dan Vanessa dari US. Biasanya Rigoberto, si tukang pisang Honduras, ikut juga.
Malam itu kami beruntung mendapatkan tempat non-smokers di Distillery. Tempat ini selalu ramai. Suasananya menyenangkan.
Sambil menikmati Bud Lite nya, Ashutov berdiskusi seru dengan Najib. Sebelum melanjutkan studinya di sini, Ashu pernah mengikuti pendidikan militer di negaranya. Sedangkan Najib dibesarkan di Saudi Arabia. Walaupun keduanya bisa berbahasa Urdu, mereka berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih.
Kami jadi tertarik karena serunya diskusi mereka. Ternyata mereka sedang membicarakan masalah perang Kasmir. Keduanya mewakili kedua negara yang berperang. Perang itu sendiri sudah berlangsung lama, mungkin sebelum kami semua lahir.
Menurut mereka, awalnya perang tersebut adalah perpisahan Pakistan dari India. Perbedaan agama menjadi alasannya. Tapi di Kasmir, masalahnya menjadi kompleks. Sebagian besar penduduk di Kasmir beragama Islam. Tapi penguasa daerah tersebut beragama Hindu. Masyarakat yang muslim menginginkan perpisahan dengan India. Sedangkan penguasa Kasmir menentangnya. Pecahlah konflik yang tidak terselesaikan hingga sekarang.
Menariknya, konflik Pakistan - India tersebut ternyata tidak mengganggu pertemanan Najib dan Ashu. Bagi mereka terasa ironis karena konflik tersebut seolah olah menjadi permainan kaum penguasa saja. Masyarakat awam tidak peduli akan konflik tersebut. Bahkan, karena pada dasarnya mereka satu rumpun, Najib dan Ashu merasa cukup dekat. We're in the same ship now, kata mereka. Kita sekarang di sini sama sama berjuang.
Melihat mereka berdua, saya jadi teringat pada keadaan di negara sendiri. Sejak krisis ekonomi di Indonesia, masyarakat kita menanggung banyak beban pikiran. Banyak orang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan primernya.
Tapi di sisi lain, sekelompok masyarakat yang disebut elit, malah saling adu. Saling gontok gontokan buat mendapatkan kekuasaan. Seolah olah mereka dewa2 tinggal di khayangan, jauh dari buminya.
Mungkin, di mana mana, atau paling tidak di India, Pakistan dan Indonesia, rakyat biasa tak lebih dari permen karet. Dijilat kaum penguasa saat diperlukan untuk kemenangan golongannya. Kemudian ditempelkan di balik meja sesudah suaranya didapatkan.
---- after two glasses of coors light ----
Rochester, Jan 2001
|