|
|
|
![]() |
|
|
|
|
Syahri Siregar
Menghadapi persoalan apapun didunia saya tetap percaya akan kekuatan agama. Saya tetap percaya Tuhan mengetahui dan memberikan pemecah masalah yang dihadapi manusia secara menyeluruh dengan agama yang Dia turunkan. Tuhan-lah Yang Maha modern dan canggih karena dia pemilik alam ini beserta segala isi didalamnya dari saat Ia menciptakan sampai saat Ia menghancurkannya kelak. Karenanya, bukan hanya zaman Adam dan Hawa yang dia ketahui, zaman komputer pun begitu kecil dibanding ilmuNya.
Dialah yang mengatur Sunnatullah (hukum alam) hingga segala mahluk menyandang akibat perbuatannya dan apa yang ditimpakan orang lain kepadanya. Ia memberikan kemajuan kepada yang berusaha cukup (sufficient) untuk itu dan sebaliknya ia mempersilakan manusia menanggung keterbelakangan karena tidak berusaha dengan cukup untuk itu ataupun hanya berbuat sebatas beberapa hal-hal perlu (necessary) saja. Di samping mekanisme yang lurus demikian, dengan hukum alamnya Tuhan juga mengijinkan unfairness terjadi akibat adanya dominasi dan intervensi kasar ataupun samar (walau sebenarnya semua jelas asal kita mau jernih mengkajinya) yang dilakukan sebagian orang yang berada di atas angin. Sampai akhirnya nanti manusia kembali benar-benar taat sepenuhnya kepadaNya hingga mampu membalikan penindasan menjadi keadilan yang menyeluruh.
Kalau sekarang kita merasa agama sebagai sumber masalah, bisa jadi hanya karena tergesa-gesa hingga cara pandang kita kurang adil dan kurang mendalam terhadap masalah-masalah yang terjadi. Untuk mengkaji suatu masalah yang kompleks kita sebaiknya harus sangat hati-hati agar bisa mengambil kesimpulan dengan benar. Pertama-tama harus dapat memahami dan membedakan antara sebab dan akibat, antara pangkal dan ujung serta antara pemicu dan reaksi. Ini pembuka jalan bagi pembentukan pandangan yang adil. Mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan, terlebih jika menyangkut kepentingan diri kita sendiri.
Teman saya memberikan contoh analogi dengan memicingkan sebelah mata, lantas memajang sebutir telor ayam tepat dekat didepan mata yang terbuka. Maka apa yang kita lihat paling besar didunia adalah sebutir telor tersebut. Akan tetapi setelah telor itu kita jauhkan sedikit demi sedikit segera kita sadar bahwa telor itu hanya bagian kecil dari dunia dunia yang begitu luas. Ini menggambarkan bagaimana kalau kita menghadapi persoalan hanya mengandalkan rasionalitas dan kemapuan immediate kita, akan beda kalau kita menjauhkan jangkauan pikir sehingga mampu melihat hakikat pesoalan tersebut sesungguhnya.
Di samping itu kita juga sering keliru dalam menilai perbuatan orang dalam suatu kemelut hingga sering memutar balikan dan mencampur adukan wahana-wahana urgent dari gerak langkah, perjuangan (struggle, striving) orang atau kelompok orang. Kita kurang teliti dalam membedakan antara sarana atau tujuan, identitas khusus atau umum, keyakinan baku atau yang bias (bias karena macam-macam sebab), jangka panjang atau pendek, kesadaran umum atau emosional, dll. Bahayanya, kalau kita coba-coba memberikan kesimpulan yang memberatkan/menyudutkan suatu pihak tanpa timbangan yang adil, kita akan menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dan menimpakan kemudharatan bagi orang lain tanpa hak. Orang dapat melakukan kesalahan ini salah satunya karena terselubung phobia dan menjadikan phobinya sebagai alat ukur.
Sekali lagi ini juga cuman mudah diucapkan tapi sulit dilakukan kecuali bagi orang yang sungguh-sungguh bermaksud mencari kebenaran walau dari lubang serangga yang kecil, gelap, bau, dan susah dijangkau (artinya: bukan cuma mau enak dan menangnya sendiri).
Saya sebagai seorang yang beragama tidak pernah menemukan satu petunjuk pun dalam agama saya yang menjurus untuk terjadinya perpecahan. Juga tidak ada kepentingan bagi saya untuk maksa-maksa umat lain masuk agama saya karena dalam petunjuk Al-Quran (2:256) jelas tertulis: "Tidak ada paksaan dalam beragama (Islam) karena telah jelas antara cahaya (kebenaran) dan kesesatan (untuk dipilih yang kebenaran). Karenanya kalau ada tuduhan pemaksaan agama atas nama Islam, itu benar-benar bullshit.
Selain itu Islam dan umatnya merupakan Rahmatan lil Alamiin, yakni membawa kebaikan dan manfaat bagi seluruh alam. Memberikan manfaat bagi umat lain, itu jelas termasuk diadalamnya. Disini artinya, agama Islam menuntun umatnya bersih dari konflik dengan umat lain karena tidaklah mendahulukan Islamisasi sebagai sarat sebelum memberikan kebaikan atau rahmat dan manfaat. Banyak bukti sejarah yang menunjukkan kedamaian dan kemakmuran bagi seluruh umat saat khalifah Islam berkuasa di muka bumi. Mereka runtuh bukan karena zalim lalu diberontak, tapi karena dirong-rong oleh pihak-pihak yang tidak sudi berada di bawah pemerintahan Islam. Beda sekali dengan keadaan Islam sekarang ini yang tidak mendapatkan keadilan pada tiap permasalahan yang dihadapinya di bawah penguasa yang tidak mengambil agama sbg tolok ukurnya.
Kesimpulan saya, tidak ada sedikitpun masalah dengan agama saya yang mengakibatkan terjadinya perpecahan bangsa. Saya tetap yakin agama sebagai tolok ukur terbaik bagi setiap masalah. Kerusuhan yang terjadi dengan membawa-bawa nama agama merupakan fakta yang perlu dinilai justru dengan kacamata agama. Bukan sebaliknya, dengan fakta tersebut kita menghukumi agama sebagai sumber yang perlu dipersalahkan. Tidak ada anjuran agama untuk menyakiti umat lain. Saya hanya akan melegitimasi seseorang tidak memeluk agama kalau memang ia menemukan petunjuk agama sebagai sumber permasalahannya. Kalau sampai ada dalam agama petunjuk: "Wahai manusia kujadikan sebagian engkau pemeluk agamaku dan sebagian lain bukan, agar yang bukan ku siksa, karena itu bunuh dan usirlah mereka," maka saya akan mendukung 100% agar kita keluar dari agama.
Kalau memang seseorang tidak beragama karena tidak mendapat kepuasan pada agama, maka sebaiknya dia mulai mengingat pengalaman-pengalaman bathinnya dari masa kecilnya hingga sekarang. Siapa yang memberikannya instink waktu bayi untuk menyusu dengan ibunya? Kenapa bisa timbul rasa takut dan bayangan-bayangan tidak rasional akan suatu kekuatan dibalik kegelapan dan benda-benda alam? Siapa yang mengirim pesan-pesan spiritual tersebut sementara kita tidak pernah memikirkan, mempelajari dan merencanakannya dll. Kemudian tengoklah kepada ajaran agama yang bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Niscaya ia akan menemukan
jawabannya.
Kalau kita berpendapat USA aman tentram karena tidak memakai agama, maka kita juga harus teliti. Dari segi sejarah, perselisihan etnis juga terjadi dan sudah lama selesai. Etnis asli telah dimukimkan di berbagai konservasi. Yang dominan sekarang adalah para pendatang dari berbagai negara eropa. Meski tidak bisa di jadikan kesimpulan, biasanya lebih jarang terjadi didunia pertentangan antar sesama pendatang. Dan harus diakui mereka terlihat sebagai good human beings (meskipun banyak juga yang gila) dengan systemnya yang ada sekarang. Dan salah satu penyokong kemantapannya adalah karena mereka berhasil mempertahankan kestabilan ekonomi. Kalau ingin berandai-andai juga, saya tidak yakin mereka akan seaman ini tanpa kemantapan ekonomi tersebut. Ingat potensi rusuh mereka nampak beberapa tahun lalu di Los Angeles antara kulit hitam dan putih. Mereka telah naik daun dengan kapasitas eko-pol nya yang super sehingga bisa mengatur dunia untuk menjaga kepentingan kemantapan dalam negerinya walau dengan menghisap kekayaan negara berkembang, fakta yang tidak bisa dipungkiri.
Kemakmuran mereka diawali dengan pergantian mata uang dari standar emas menjadi standar kertas yang harus diikuti oleh seluruh dunia karena USA pemimpin sekutu yang menang dalam PD II, disokong dengan perdirian IMF yang mengatur lalu lintas devisa dalam standar uang baru. USA mulai menjadi pengendali dunia dan mengeruk keuntungan dari situ padahal sebelumnya diambang kebangkrutan karena bertumpuknya hutang dalam emas. Jadi bagi saya tidak semua point keberhasilan USA akan saya jadikan guidance karena jauh dari kesempurnaan dan tidak applicable dimasa sekarang kalau tidak
utopis.
Perlu diketahui jargon "demokrasi" yang kita ingin tegakkan secara universal disegenap permukaan bumi, dengan USA sebagai kampiunnya dan membuatnya berhak menjelajah isi dapur tiap negara, boleh dikatakan belum memiliki bentuk baku hingga sekarang. Demokrasi masih mencari-cari identitas baik ditataran konsep terlebih dalam prakteknya.
Dalam suatu system kehidupan demokratis dipercaya akan terjamin adanya kebebasan berekspresi, keamanan dan jaminan akan hak asasi sipil, supremasi hukum dan keadilan, fairness dan persamaan, transparency dan accoutabilitas pemerintah dan banyak keinginan mulia lain. Namun ketika dirumuskan pada point2 universal ia akan berbenturan dengan azas majority rule yang specific. Majority rule merupakan kebenaran yang dianggap dominan dan berasal dari suara hati nurani masyarakat yang harus dijunjung tinggi dalam demokrasi. Sementara proteksi terhadap majority rule belum tentu berimplikasi pada advancement toward other positive characteristics' implementation previously stated. Para perumus policy akan bingung atau lebih fatal akan bemain intrik demi nafsu dan interest. Double standard bukan rahasia bahkan dilakukan oleh kampium demokrasi itu sendiri.
Tidak kurang dari Lee Kuan Yew dan P Samuelson (dalam buku klasiknya) meragukan peran langsung demokrasi dalam mewujudkan kemakmuran rakyat. Para akhli masih mencari2 pada tataran mana sebenarnya hubungan demokrasi dan development tersebut karena tidak terdapat bukti nyata yang jelas menunjukkannya. Sebagian tidak percaya ada hubungan, sebagian percaya kemakmuran mampu melanggengkan demokrasi tapi tidak mesti sebaliknya sehingga bad economically democratic country akan collapse juga. Sebagian lain percaya kemakmuran yang modorong makin kokohnya kekuatan sipil mampu mendorong tumbuhnya demokrasi tetapi tidak sebaliknya. Dsbnya-dsbnya.
Demokrasi untuk diclaim sebagai necessary condition, saya sangat setuju. Akan tetapi ia sendirian tidaklah cukup (sufficient) bagi tatanan kehidupan yang kompleks dan beragam. Apalagi dalam integritas kehidupan dunia yang begitu erat disertai persaingan2 kepentingan yang sangat ketat membuat perjuangan negara buntut jadi tambah berat. Standar ganda bisa diimplementasikan setiap waktu dengan prinship: why should care with your suffering, you are not a part of us?
Minta maaf dan koreksi kalau tersalah.
|